Pages

Subscribe:
SAPUNYERE PEGAT SIMPAY PATURAY PATEPANG DEUI

Monday, 24 June 2013

skripsi ilmu tajwid bab I



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Pesantren adalah lembaga pendidikan islam yang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Di lembaga inilah diajarkan dan dididikan ilmu dan nilai-nilai agama kepada santri. Pada tahap awal pendidikan di pesantren tertuju semata-mata mengajarkan ilmu-ilmu agama terdiri dari berbagai cabang diajarkan di pesantren dalam bentuk wetonan, sorogan, hafalan ataupun musyawarah (muzakarah). Pada tahap awal juga sistemnya berbentuk non formal, tidak dalam bentuk klasikal serta lamanya santri di pesantren tidak ditentukan oleh tahun, tetapi oleh kitab yang dibaca. Bisa juga seorang santri berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya untuk mendalami ilmu yang lebih spesifik lagi.[1]
Pondok pesantren telah banyak mewarnai perjuangan bangsa kita dalam melawan imprealisme serta merebut kemerdekaan pada revolusi fisik sekitar enam puluh delapan tahun yang lalu, ketikaitu pondok pesantren merupakan basis perjuangan dan tidak sedikit santri yang terjun sebagai tentara rakyat yang kemudian menjadi tentara nasional.
Selain itu pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan islam dan penyiar agama islam. Identitas yang disebut terakhir ini telah cukup jelas, karena tujuan dan misinya bersumber dari semangat islam. Dengan demikian lembaga pesantren adalah penentu watak keislaman dari kerajaan-kerajaan islam yang memiliki peranan penting islamisasi di asia tenggara, lembaga-lembaga pesantren harus terlebih dahulu dipelajari sebab disinilah asal-usul sejumlah manuskrif tentang pengajaran islam di wilayah ini.
Karakteristik suatu pesantren ditandai dengan adanya pondok (asrama), mesjid, pengajaran dengan kitab-kitab islam klasik, santri dan kyai. Pengaruh kyai bukan hanya dominan dalam kalangan pesantren tetapi juga kepada warga desa kawasan daerah disekitarnya.[2]
Keberadaan pondok pesantren secara implisif berkonotasi sebagai lembaga pendidikan islam tradisional, tidaklah seluruh pesantren itu selalu tertutup dengan inovasi, pada zaman penjajahan belanda memang mereka menutup diri dari segala pengaruh luar, terutama pengaruh barat yang non islami. Namun di lain pihak pondok pesantren dengan figur kiyainya telah berhasil menumbuhkan nasionalisme dan mempersatukan antar suku seagama sehingga bisa berjuang bersama-sama melawan penjajah.
Pesantren sebagai komunitas belajar keagamaan sangat erat hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. Pada umumnya kontak lahir batin antara warga pondok pesantren dengan masyarakat, lebih erat bila dibandingkan dengan hubungan antara lembaga pendidikan non pesantren dengan penduduk disekitarnya.
Tujuan pendidikan pesantren bukan untuk mengajar kepentingan kekuasaan, harta dan keagungan duniawi saja, namun semata-mata merupakan kewajiban dan pengabdian kepada Allah SWT, perkembangan suatu pesantren sepenuhnya terletak pada kemampuan dan wawasan kiyainya. Kiyai merupakan faktor dominan dari sebuah pesantren, upaya para kiyai yang paling utama dalam melestarikan tradisi pesantren ialah membangun solidaritas dan kerjasama secara internal dan eksternal.
Kiyai juga dalam memberikan pemahamannya tentang ilmu tajwid tidak semudah apa yang kita kira, karena pengucapan huruf-huruf Al-Qur’an  yang benar-benar baik memerlukan waktu yang cukup lama. Dalam mempelajari ilmu tajwid senantiasa dilakukan secara mushofahah (bertemu langsung) dengan guru yang benar-benar faham dalam ilmu Al-Qur’an  dan fasih dalam melafadhkan ayat Al-Qur’an, sehingga tidak terjadi kesalah fahaman dalam memahami ilmu tajwid.[3]
Dengan banyaknya lulusan pesantren yang melanjutkan pada pendidikan umum, ditambah pula banyaknya tenaga pengajar pondok pesantren yang menguasai ilmu-ilmu diluar disiplin ilmu agama islam, maka keterbukaan pondok pesantren terhadap dunia luar terutama masyarakat disekitarnya semakin luas. Hal ini terbukti dengan adanya bangunan cara fisik di pedesaan pada beberapa provinsi di Indonesia yang digerakan oleh para kiyai atau santri. Pondok pesantren sudah sangat lazim terdapat perbedaannya, ada pesantren yang mengutamakan pemahaman Al-Kitab, dan ada pula yang mengutamakan kepasihan atau pendalaman Al-Qur’an. Disinilah seorang santri dituntut untuk tidak menuntut ilmu agama di sebuah pesantren saja, lebih banyak pesantren yang ia pendalam ilmunya maka akan lebih mantap pula pemahaman yang ia dapat. Di pondok pesantren Al-Hidayah Wadowetan pendidikannya sangat difokuskan pada pendalaman kandungan-kandungan ayat suci Al-Qur’an , akan tetapi tidak menuntut kemungkinan pemahan Al-Kitab juga dipendalam di pondok pesantren ini. Dengan demikian siswa yang ikut menuntut ilmu di pondok pesantren ini, pemahaman ilmu tajwidnya sangat baik. Oleh karena itu, agar siswa lebih cepat berhasil dalam penguasaan ilmu tajwid dipandang perlu adanya tambahan pendidikan di luar jam pelajaran sekolah baik di pondok pesantren, maupun lainnya.
Dilihat dari cara pembacaan Al-Qur’an, anak yang tidak menambah pendidikannya di pondok pesantren dibandingkan dengan anak yang menambah pendidikannya di pondok pesantren maupun lainnya akan terlihat jauh berbeda. Tajwid merupakan hal yang paling penting dalam menentukan baik dan buruknya dalam mengucapkan hurup-hurup Al-Qur’an, dengan demikian belajar tajwid harus dengan sungguh-sungguh.
Untuk menciptakan hal tersebut di atas perlu adanya iklim yang sehat dan pendidikan yang mantap, sehingga memungkinkan kreativitas generasi penerus berkembang dengan baik. Pendidikan anak-anak yang pertama dan yang paling utama adalah pendidikan dilingkungan keluarga, karena keluargalah yang berhak memikul beban dan tanggungjawab untuk kelangsungan hidup mereka, baik yang berkenaan dengan hidup di dunia maupun untuk bekal nanti di akhirat. Fiman Allah dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6:
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#þqè%ö/ä3|¡àÿRr&ö/ä3Î=÷dr&ur#Y$tR$ydߊqè%urâ¨$¨Z9$#äou$yfÏtø:$#ur
$pköŽn=tæîps3Í´¯»n=tBÔâŸxÏî׊#yÏ©žwtbqÝÁ÷ètƒ©!$#!$tBöNèdttBr&tbqè=yèøÿtƒur$tBtbrâsD÷sãƒ۝
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[4]

Dalam hal ini terbentuknya suasana tentram dan teratur dalam keluarga merupakan suatu conditione quanon bagi suksesnya pendidikan ditempat lain. Oleh karena itu, pembinaan mental harus ditanamakam sejak kecil, diharapkan anak-anak akan terhindar dari pengaruh yang negatif yang akan membawa kehancuran terhadap agama, nusa dan bangsa. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisi yang telah ada di indonesia setelah sekolah-sekolah pola barat maju. Lembaga pendidikan ini memiliki sistem pengajaran yang berbeda dengan pendidikan formal.
Peranan pemuka agama (kiyai) dalam membantu pendidikan ilmu tajwid di MD Takmiliah Wadowetan diluar jam pelajaran sekolah cukup besar, terutama membantu pemerintah dalam pendidikan. Masalah pokok yang menjadi pusat perhatian pemerintah dan masyarakat adalah masalah pendidikan, bahkan sekarang sedang menggalakan pendidikan dasar dua belas tahun. Ini berarti para siswa wajib menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat SLTA.[5]
Dalam rangka mempersiapkan kader penerus bangsa dalam pembangunan nasional, perlu adanya usaha memantapakan pendidikan akhlak dengan cara menambah pendidikan di luar jam sekolah, yaitu di pondok pesantren, agar menjadi manusia yang berpotensi tinggi yang nantinya ikut serta dalam melakukan pembangunan.
Pendidikan yang pertama adalah pendidikan dalam lingkungan keluarga, akan tetapi karena ada beberapa hal yang menjadi kendala, diantaranya waktu, kemampuan dan kesempatan, maka orang tua menitipkan anak-anaknya kesekolah dan ke pondok pesantren. Maka guru dan kiyai mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendidik dan mengajar anak-anak didiknya. Anak-anak tersebut diharapkan agar menjadi kader penerus bangsa dan merupakan sumber daya manusia yang potensial.

B.  Identifikasi Masalah
Dengan melihat latar belakang di atas, banyak masalah yang timbul dan dapat penulis rasakan. Untuk terciptanya tujuan penelitian yang sesuai dengan harapan, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.    Faktor penghambat penanaman pengetahuan tentang tajwid dalam kepasihan membaca Al-Qur’an pada anak antara lain:
a.    Kurangnya pengetahuan orang tua tentang pentingnya ilmu tajwid dalam membaca Al-Qur’an.
b.    Lingkungan keluarga, sekolah dan teman bermain yang belum kondusif.
c.    Kurangnya minat anak untuk memperdalam ilmu tajwid.
d.   Orang tua dan anak sudah merasa puas apabila sudah bisa membaca Al-Qur’an walaupun tajwidnya belum benar.
e.    Kurangnya pengetahuan orang tua tentang keseluruhan program pembelajaran yang ada di Madrasah Diniah.
2.    Faktor penunjang penanaman pengetahuan tentang tajwid dalam kepasihan membaca Al-Qur’an pada anak antara lain:
a.    Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang menetapkan pendidikan agama Islam sebagai mata ajar wajib pada setiap jenjang pendidikan.
b.    Adanya perhatian yang besar dari lingkungan Kementrian Agama dan Kementrian Pendidikan Nasional terhadap upaya pembinaan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
c.    Adanya para kiyai yang peduli akan masa depan kemajuan bangsa dan negara, dengan niat mencetak kader bangsa yang agamis.
d.   Tersedianya pondok pesantren yang didalamnya memprioritaskan pengajaran tentang ilmu keagamaan.
e.    Adanya kesadaran masyarakat untuk mendukung kegiatan program Madrasah Diniah dilingkungannya masing-masing.

C.  Pembatasan dan Perumusan Masalah
1.    Pembatasan Masalah
Mengingat masalah yang dikemukakan di atas sangat luas, maka perlu dilakukan pembatasan masalah, supaya masalah-masalah yang ada dapat terpecahkan secara optimal. Oleh karena itu, masalah dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
a.    Sistem pengajaran yang diterapkan di pondok pesantren disini adalah sistem pengajaran tentang pemahaman ilmu tajwid di pondok pesantren Al-Hidayah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka.
b.    Kepasihan siswa dalam membaca Al-Qur’andisini adalah ditekankan pada mata ajar Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) di Madrasah Diniah Takmiliah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka.
c.    Madrasah Diniah (MD) Takmiliah yang dimaksud disini adalah salahsatu lembaga pendidikan yang berada dilingkungan Kementrian Agama yang bertempat di Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka.
2.    Perumusan Masalah
Melihat dari latar belakang di atas, kiranya penulis akan merumuskan masalah adalah sebagai berikut:
a.    Bagaimanakah penerapan sistem pengajaran ilmu tajwid di pondok pesantren Al-Hidayah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka?
b.    Bagaimanakah kepasihan siswa dalam membaca Al-Qur’an pada mata ajar Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ)  di Madrasah Diniah Takmiliah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka?
c.    Bagaimanakah pengaruh penerapan sistem pengajaran ilmu tajwid di pondok pesantren Al-Hidayah terhadap kepasihan siswa dalam membaca Al-Qur’an  pada mata ajar Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ)  di Madrasah Diniah Takmiliah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka?

D.  Tujuan dan Signifikasi Penelitian
1.    Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan di atas,maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.    Untuk mengetahui penerapan sistem pengajaran ilmu tajwid di pondok pesantren Al-Hidayah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka.
b.    Untuk mengetahui kepasihan siswa dalam membaca Al-Qur’an pada mata ajar Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ)  di Madrasah Diniah Takmiliah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka.
c.    Untuk mengetahui pengaruh penerapan sistem pengajaran ilmu tajwid di pondok pesantren Al-Hidayah terhadap kepasihan siswa dalam membaca Al-Qur’an  pada mata ajar Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ)  di Madrasah Diniah Takmiliah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka.
2.    Signifikasi Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, selain menjadi salah satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan Strata satu (S1) pada jurusan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta, dapat bermanfa’at untuk:
a.    Pondok pesantren dalam menerapkan sistem pengajaran ilmu tajwid pengaruhnya terhadap kepasihan membaca Al-Qur’an pada mata ajar Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ)  di Madrasah Diniah Takmiliah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka. Jika pengaruhnya positif, maka sistem pengajaran tersebut harus dipertahankan bahkan ditingkatkan, dan jika pengaruhnya kurang maksimal maka sebagai evaluasi untuk perubahan kearah yang lebih baik.
b.    Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi bagi pengelola Madrasah Diniah (MD) untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang bisa memberikan dampak positif bagi peningkatan pengembangan pehaman ilmu tajwid dalam kepasihan membaca Al-Qur’an terutama pada mata ajar Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) di Madrasah Diniah Takmiliah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka.


E.  Sistematika Penulisan
Penelitian ini akan disusun dalam lima bab yang saling berkaitan antara bab satu dengan yang lainnya, dan tiap-tiap bab terdiri dari beberapa sub, bagian yang disusun sebagai berikut:
Bab pertama ialah Pendahuluan. Bab ini berisi Latar Belakang Masalah yang memuat latar belakang terjadinya masalah, Identifikasi Masalah memuat dan mengidentifikasi masalah yang timbul atau yang ada dalam latar belakang masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah memuat masalah dari hasil identifikasi dibatasi agar masalah yang diteliti tidak terlalu luas supaya masalah dapat terpecahkan secara optimal dan seterusnya masalah tersebut dirumuskan, Tujuan dan Signifikansi Penelitian dan Sistematika Penulisan.
Bab kedua ialah Landasan Teori Penelitian tentang Pengaruh Pengajaran Ilmu Tajwid Pondok Pesantren Terhadap Kepasihan Bacaan Al-Qur’an  Pada Mata Ajar Baca Tulis Qur’an (BTQ) yang memuat: deskripsi teori berupa penjelasan Pengajaran Ilmu Tajwid, sistem pengajaran ilmu tajwid di pondok pesantren Al-Hidayah, kepasihan dalam membaca Al-Qur’an pada Mata Aja Baca Tulis Qur’an di Madrasah Diniah Takmiliah, pengaruh penerapan sistem pengajaran ilmu tajwid di pondok pesantren Al-Hidayah terhadap kepasihan dalam membaca Al-Qur’an pada Mata Ajar Baca Tulis Al-Qur’an di Madrasah Diniah Takmiliah, Kerangka Berfikir dan Hipotesis.
Bab ketiga ialah Kerangka Metodologis memuat: Metode Penelitian, Populasi, Sampel, Teknik Penarikan Sampel, Instrumen Penelitian, Teknik Pengumpulan Data yang terdiri dari Angket, Studi Pustaka, Observasi, Wawancara dan Dokumentasi dan Teknis Analisis Data yang terdiri dari Editing, Alternatif Jawaban, Skorting dan Tabulating.
Bab keempat ialah Hasil Penelitian yang memuat tentang: gambaran umum tentang lokasi penelitian (daerah dan institusi), karakteristik responden dan gambaran umum tentang penerapan sistem pengajaran ilmu tajwid di pondok pesantren Al-Hidayah terhadap kepasihan siswa dalam membaca Al-Qur’an  pada mata ajar Baca Tulis Qur’an (BTQ)  di Madrasah Diniah Takmiliah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka. Penyajian Analisis Data hasil penelitian yang diambil dari hasil angket penelitian dan nilai leger raport siswa Madrasah Diniah Takmiliah Desa Wadowetan Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka.  dan Interprestasi Hasil Penelitian.
Bab kelima, penutup berupa Kesimpulan dan rekomendasi yang berupa saran-saran.






[1]H. Amin Haedari,  (Transformasi Pesantren), Jakarta: Media Nusantara, 2007,  h: 3.
[2]Mayra Walsh, (Pondok Pesantren Dan Ajaran Golongan Islam Ekstrim (Studi Kasus Di Pondok Pesantren Modern Putri ‘Darur Ridwan’ Parangharjo, Banyuwangi) Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Muhammadiyah Malang), 2002,  h: 9.
[3]Irfan Hielmy, (Wancana Islam), Ciamis: Pusat Informasi Pesantren, 2000,  h: 120.
[4]Depag  RI, (Al-Qur’an  dan Terjemahannya), Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1984, h: 951.
[5]Mayra Walsh, (Pondok Pesantren Dan Ajaran Golongan Islam Ekstrim (Studi Kasus Di Pondok Pesantren Modern Putri ‘Darur Ridwan’ Parangharjo, Banyuwangi) Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Muhammadiyah Malang), 2002, h: 43.

0 comments:

Post a Comment